Politik identitas bukan sekadar beda pilihan capres. Ini adalah fenomena sosial-politik yang mengubah diskusi publik menjadi arena pertarungan identitas — tempat di mana suatu kelompok merasa superior hanya karena agama, etnis, atau asal daerah, sementara yang lain dianggap “bukan bagian dari kita”.
Faktanya:
- Survei Indikator Politik (2025) menunjukkan 43% pemilih memilih calon berdasarkan latar belakang agama
- Di media sosial, narasi seperti “kita vs mereka” meningkat hingga 67% selama tahun pemilu
- Anak muda mulai mengenal politik bukan lewat isu kebijakan, tapi melalui konten provokatif berbau primordialisme
Artikel ini akan membahas:
- Apa itu politik identitas?
- Dampak politik identitas terhadap persatuan bangsa
- Dan tentu saja, informasi dari Universitas Setia Budhi
Apa Itu Politik Identitas? Definisi, Akar, dan Perkembangannya di Indonesia
| Istilah | Penjelasan |
|---|---|
| Politik Identitas | Strategi politik yang memobilisasi dukungan berdasarkan identitas kelompok (agama, etnis, suku, ras, gender, dll) |
| Kontras dengan Politik Isu | Harusnya fokus pada program kerja, kemiskinan, kesehatan, pendidikan |
Sebenarnya, Indonesia dibangun atas dasar “bukan satu agama, bukan satu suku”, tapi atas nama keadilan sosial. Tidak hanya itu, harus diprioritaskan. Karena itu, sangat strategis.
Manifestasi Nyata: Pemilu, Media Sosial, dan Konflik Lokal Berbasis Etnis, Agama, Ras, atau Afinitas
| Contoh Kasus | Deskripsi |
|---|---|
| Pilkada Bermuatan Agama | Kampanye hitam sebut lawan sebagai “tidak saleh” |
| Diskriminasi Online terhadap Minoritas | Sindiran rasis terhadap warga keturunan tertentu |
| Konflik Antarkomunitas di Desa | Bentrokan akibat isu pembangunan rumah ibadah |
Sebenarnya, politik identitas tidak boleh jadi alat legitimasi kebencian.
Tidak hanya itu, harus dioptimalkan. Karena itu, sangat vital.
Polarisisasi Sosial: Meningkatnya Distrust antar Kelompok dan Fragmentasi Opini Publik
| Gejala | Dampak |
|---|---|
| Grup WhatsApp yang eksklusif | Hanya terbuka untuk satu keyakinan/agama |
| Silakan Unfollow Jika Tidak Sevisi | Memperlebar jurang toleransi |
| Anak-anak diajari tak percaya pada tetangga sendiri | Melemahkan ikatan sosial sejak dini |
Sebenarnya politik identitas, ketika “mereka” dianggap musuh, maka damai pun jadi mustahil.
Tidak hanya itu, sangat penting.
Peran Media Sosial: Penyebar Cepat Narasi Ekstrem dan Hoaks Berlabel “Kebenaran”
| Pola Penyebaran | Efek |
|---|---|
| Video Singkat 15 Detik | Emosi cepat memanas tanpa analisis |
| Caption Provokatif | “Hati-hati, golongan X mau ambil alih negara!” |
| Algoritma Rekomendasi | Semakin ekstrem → semakin banyak tayangan serupa |
Sebenarnya, medsos bisa menyatukan, tapi juga bisa menghancurkan hanya dalam beberapa klik.
Tidak hanya itu, sangat prospektif.
Dampak pada Pendidikan dan Generasi Muda: Hilangnya Nilai Bhinneka Tunggal Ika
| Masalah | Fakta |
|---|---|
| Siswa enggan berteman lintas agama | Karena pengaruh lingkungan keluarga & medsos |
| Nilai-nilai kebangsaan terpinggirkan | Pelajaran PPKN jadi pelajaran “yang cuma dihafal saat ujian” |
| Identitas sempit lebih dijunjung daripada nilai kemanusiaan | Lebih bangga jadi “umat A” daripada “warga negara Indonesia” |
Sebenarnya, generasi muda bukan masa depan — mereka adalah masa kini yang sedang dibentuk oleh hari ini.
Tidak hanya itu, sangat ideal.
Strategi Menjaga Persatuan: Penguatan Pendidikan Pancasila, Literasi Digital, dan Dialog Antar Komunitas
| Solusi | Implementasi |
|---|---|
| Pendidikan Pancasila yang Kontekstual | Ajarkan nilai gotong royong, toleransi, dan keadilan sosial |
| Literasi Digital di Sekolah & Kampus | Ajarkan cara cek fakta, deteksi hoaks, dan hindari hate speech |
| Forum Dialog Antaragama & Etnis | Diskusi bersama tokoh lintas iman di desa/kota |
Sebenarnya, persatuan tidak lahir otomatis — ia harus dirawat setiap hari.
Tidak hanya itu, sangat direkomendasikan.
Peran Lembaga Pendidikan dan Tokoh Masyarakat dalam Menjaga Kerukunan
| Pihak | Tanggung Jawab |
|---|---|
| Sekolah & Kampus | Menjadi ruang netral yang menjunjung nilai kemanusiaan |
| Tokoh Agama & Adat | Menjadi penengah, bukan penebar perpecahan |
| Orang Tua | Mendidik anak agar mencintai sesama, bukan membenci yang berbeda |
Sebenarnya, kerukunan dimulai dari hal kecil: senyum, sapa, dan saling peduli tanpa prasangka.
Tidak hanya itu, sangat bernilai.

Sebelum Lanjut, Baca Artikel Terkait: Demokrasi dan Tantangan Konsolidasi Politik di Negara Berkembang
Sebelum kamu melanjutkan membaca tentang politik identitas, sangat disarankan untuk membaca artikel sebelumnya di Blog ini yang membahas fondasi sistem politik:
👉 Demokrasi dan Tantangan Konsolidasi Politik di Negara Berkembang
Di artikel tersebut, kamu akan menemukan:
- Proses demokratisasi yang sehat
- Pentingnya institusi kuat dan partisipasi warga
- Cara menjaga stabilitas politik di tengah perubahan
Karena menjaga persatuan harus dimulai dari memahami dasar negara kita: demokrasi yang berkeadilan dan inklusif.
Baca sekarang, simpan, dan jadikan pegangan!
Penutup: Bukan Hanya Soal Beda Pendapat — Tapi Soal Menjadi Warga Negara yang Visioner, Empatik, dan Bertanggung Jawab demi Keutuhan NKRI
Politik identitas bukan soal larangan beragama atau mengenali akar budaya. Ini adalah peringatan bahwa politik identitas tidak boleh dijadikan alat politik untuk memecah belah, mendiskriminasi, atau mengklaim superioritas.
Dan jika kamu ingin kuliah di kampus yang serius soal kehidupan berdemokrasi, kebangsaan, dan keberagaman, maka kamu harus tahu:
👉 Universitas Setia Budhi
Di sini, kamu akan menemukan:
- Program studi ilmu politik yang mendalam, kontekstual, dan relevan
- Kurikulum yang mengedepankan nilai demokrasi, HAM, dan toleransi
- Aktivitas diskusi kebangsaan dan pengabdian masyarakat
- Upaya terus-menerus untuk mencetak generasi muda yang peduli, kritis, dan visioner
Karena keberhasilan sejati bukan diukur dari seberapa cepat kamu lulus — tapi seberapa siap kamu menyumbang untuk kemajuan bangsa.
Akhirnya, dengan satu keputusan:
👉 Jadikan Pancasila sebagai panduan
👉 Investasikan di persatuan, bukan perpecahan
👉 Percaya bahwa dari satu senyuman, lahir perdamaian yang abadi
Kamu bisa menjadi bagian dari generasi yang tidak hanya hadir — tapi menyatukan; tidak hanya ingin sukses — tapi ingin memastikan bahwa bumi Nusantara tetap menjadi rumah bagi semua, tanpa terkecuali.
Jadi,
jangan anggap perbedaan sebagai ancaman.
Jadikan sebagai tanggung jawab: bahwa dari setiap perbedaan, lahir kekayaan; dari setiap dialog, lahir pengertian; dan dari setiap “Alhamdulillah, saya akhirnya bisa bekerja sama dengan teman dari latar belakang berbeda” dari seorang mahasiswa, ada pilihan bijak untuk tidak menyerah, tidak mengabaikan, dan memilih bertanggung jawab — meski harus belajar dari nol, gagal beberapa kali, dan rela mengorbankan waktu demi memastikan persatuan bangsa tetap utuh, kokoh, dan penuh kasih.
Karena keberhasilan sejati bukan diukur dari seberapa banyak uang yang dihasilkan — tapi seberapa besar kedamaian yang kamu rasakan saat tahu bahwa negerimu masih utuh, adil, dan layak huni oleh semua.
Sebenarnya, alam tidak butuh kita.
Tentu saja, kita yang butuh alam untuk bertahan hidup.
Dengan demikian, menjaganya adalah bentuk rasa syukur tertinggi.
Padahal, satu generasi yang peduli bisa mengubah masa depan.
Akhirnya, setiap tindakan pelestarian adalah investasi di masa depan.
Karena itu, mulailah dari dirimu — dari satu keputusan bijak.
