Warisan Budaya Banten Jadi Inspirasi Masa Depan Generasi Muda
Warisan Budaya Banten menjadi bagian penting dari identitas bangsa yang perlu terus dikenalkan, dijaga, dan diwariskan kepada generasi muda. Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital, pelestarian budaya lokal tidak lagi cukup dilakukan melalui pendekatan seremonial, tetapi juga harus dikemas secara edukatif, interaktif, dan relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini.
Komitmen tersebut diwujudkan oleh Universitas Setia Budhi melalui kerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Banten dalam penyelenggaraan Gebyar Warisan Budaya Banten. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, pada 21–22 Juli 2026, di Aula Serbaguna Kampus Universitas Setia Budhi.
Mengusung tema “Jejak Masa Lalu, Inspirasi Masa Depan”, kegiatan ini menjadi ruang edukasi budaya yang melibatkan pelajar, mahasiswa, akademisi, komunitas seni, dan masyarakat umum. Melalui berbagai kegiatan yang menarik dan partisipatif, peserta diajak untuk mengenal lebih dekat kekayaan budaya Banten, mulai dari cagar budaya, sejarah, permainan tradisional, seni pertunjukan, kuliner khas, hingga kearifan lokal masyarakat adat.
Gebyar Warisan Budaya Banten tidak hanya menjadi ajang pameran, tetapi juga sarana membangun kesadaran bahwa budaya adalah sumber pengetahuan, karakter, dan inspirasi masa depan. Sebagai bagian dari penguatan pendidikan dan pengembangan institusi akademik, informasi mengenai kegiatan pendidikan dan kebudayaan juga dapat diakses melalui Universitas Setia Budhi.
Sinergi Perguruan Tinggi dan Pemerintah dalam Pelestarian Budaya
Penyelenggaraan Gebyar Warisan Budaya Banten menjadi bentuk nyata sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah dalam mendukung pelestarian kebudayaan daerah. Universitas Setia Budhi sebagai institusi pendidikan tinggi memiliki peran strategis dalam membangun literasi budaya di kalangan mahasiswa dan masyarakat.
Sementara itu, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Banten memiliki peran penting dalam menjaga, mendokumentasikan, mengembangkan, dan memperkenalkan warisan budaya kepada publik. Kolaborasi keduanya menjadi langkah penting dalam menghadirkan kegiatan yang tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga mampu membangun partisipasi masyarakat.
Pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah, kampus, komunitas seni, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga kekayaan budaya agar tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.
Melalui kegiatan ini, budaya tidak hanya diposisikan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai sumber nilai yang dapat menginspirasi kehidupan masa depan.
Generasi Muda Diajak Mengenal Budaya secara Langsung
Panitia penyelenggara dari Universitas Setia Budhi, DC Aryadi, menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang agar generasi muda tidak hanya mengenal budaya melalui teori, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung yang menyenangkan dan bermakna.
Menurutnya, pengenalan budaya kepada generasi muda perlu dilakukan dengan cara yang kreatif dan sesuai perkembangan zaman. Budaya harus mampu hadir dalam ruang-ruang yang dekat dengan kehidupan anak muda, termasuk melalui media sosial dan platform digital.
“Kami ingin generasi muda memiliki rasa bangga terhadap budaya daerahnya. Budaya harus terus hidup dan berkembang mengikuti zaman. Media sosial dapat menjadi sarana positif untuk memperkenalkan permainan tradisional, seni, maupun kearifan lokal kepada masyarakat yang lebih luas,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak berarti menolak modernitas. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi alat penting untuk memperluas jangkauan informasi budaya, memperkenalkan tradisi kepada generasi baru, serta menjadikan budaya lokal semakin dikenal oleh masyarakat luas.
Pameran Cagar Budaya dan Jalur Rempah Banten
Salah satu daya tarik utama dalam Gebyar Warisan Budaya Banten adalah pameran cagar budaya dan pameran Jalur Rempah Banten. Pameran ini memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk memahami jejak sejarah Banten sebagai salah satu wilayah penting dalam perkembangan kebudayaan, perdagangan, dan peradaban Nusantara.
Cagar budaya menjadi bukti nyata perjalanan sejarah yang perlu dirawat dan dipahami oleh generasi muda. Melalui pameran tersebut, peserta dapat melihat bagaimana peninggalan masa lalu memiliki nilai penting sebagai sumber pembelajaran.
Selain itu, pameran Jalur Rempah Banten juga membuka wawasan tentang peran Banten dalam jaringan perdagangan rempah di masa lalu. Jalur rempah tidak hanya berkaitan dengan komoditas perdagangan, tetapi juga menyimpan cerita tentang pertukaran budaya, hubungan antarbangsa, perkembangan ekonomi, serta perjumpaan berbagai tradisi.
Melalui pameran ini, peserta diajak memahami bahwa sejarah Banten memiliki kontribusi besar dalam pembentukan identitas budaya Indonesia.
Galeri Foto, Komik Edukasi, dan Lukisan Cagar Budaya
Selain pameran sejarah, kegiatan ini juga menghadirkan galeri foto sejarah, komik edukasi kebudayaan, serta pameran lukisan sepuluh situs cagar budaya Banten karya seniman lokal Wa Gebar.
Kehadiran berbagai media visual tersebut membuat pembelajaran budaya menjadi lebih menarik dan mudah dipahami. Galeri foto membantu pengunjung melihat dokumentasi sejarah secara visual, sementara komik edukasi menjadi media yang efektif untuk menyampaikan pesan budaya kepada anak muda dengan cara yang ringan dan komunikatif.
Pameran lukisan cagar budaya juga memberikan nilai artistik dalam kegiatan ini. Melalui karya seni, situs-situs budaya Banten dapat dikenalkan dengan pendekatan yang lebih emosional dan estetik.
Seni visual memiliki kekuatan untuk membangun kedekatan antara masyarakat dan warisan budaya. Dengan melihat karya seni, pengunjung tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga merasakan nilai keindahan dan kebanggaan terhadap budaya daerah.
Mengenal Tanaman Herbal, Leuit Baduy, dan Kuliner Khas Banten
Gebyar Warisan Budaya Banten juga mengajak pengunjung mengenal tanaman herbal tradisional, arsitektur Leuit Baduy, serta aneka kuliner khas Banten yang sarat nilai sejarah.
Tanaman herbal tradisional menjadi bagian dari pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Pengetahuan tentang tanaman obat menunjukkan bahwa masyarakat lokal memiliki kearifan dalam memanfaatkan alam secara bijak untuk mendukung kesehatan dan kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, pengenalan arsitektur Leuit Baduy memberikan pemahaman mengenai cara masyarakat adat menjaga ketahanan pangan dan hubungan harmonis dengan alam. Leuit bukan hanya bangunan penyimpanan padi, tetapi juga simbol kearifan lokal, kesederhanaan, dan penghormatan terhadap hasil bumi.
Kuliner khas Banten yang dihadirkan dalam kegiatan ini juga menjadi bagian penting dari identitas budaya. Makanan tradisional tidak hanya memiliki cita rasa, tetapi juga menyimpan cerita sejarah, kebiasaan masyarakat, dan nilai sosial yang hidup dalam komunitas.
Pertunjukan Seni dan Permainan Tradisional
Suasana Gebyar Warisan Budaya Banten semakin semarak dengan berbagai pertunjukan seni budaya. Kegiatan ini menampilkan Tari Penyambutan Tradisional, atraksi seni dari siswa Sekolah Luar Biasa (SLB), serta berbagai permainan tradisional yang melibatkan peserta secara langsung.
Permainan tradisional yang dihadirkan antara lain egrang, engklek, bakiak, dan dakon. Permainan tersebut dipandu oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Jasmani Universitas Setia Budhi.
Kehadiran permainan tradisional menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan ini karena memberikan pengalaman langsung kepada generasi muda. Di tengah dominasi permainan digital, permainan tradisional memiliki nilai edukatif yang kuat.
Permainan seperti egrang dan bakiak melatih keseimbangan, kerja sama, ketangkasan, dan sportivitas. Engklek mengajarkan koordinasi tubuh dan konsentrasi, sementara dakon melatih strategi, kesabaran, dan kemampuan berhitung.
Dengan menghadirkan permainan tradisional, kegiatan ini tidak hanya mengenalkan budaya, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai kebersamaan yang mulai jarang ditemukan dalam kehidupan modern.
Program Kreasi Budaya Tahun 2026
Perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Banten, Fajar Satya Purnama, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari Program Kreasi Budaya Tahun 2026. Program tersebut bertujuan mendekatkan warisan budaya kepada masyarakat melalui pendekatan edukatif, kreatif, dan kolaboratif.
“Melalui pameran, pertunjukan seni, dan temu jejaring kebudayaan, kami ingin masyarakat, khususnya generasi muda, semakin mengenal kekayaan budaya Banten serta ikut berperan aktif dalam upaya pelestariannya,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pelestarian budaya membutuhkan partisipasi aktif masyarakat. Budaya tidak akan bertahan jika hanya disimpan dalam arsip, tetapi harus terus dihidupkan dalam praktik, pembelajaran, dan kegiatan publik.
Dengan pendekatan seperti ini, masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga bagian dari gerakan pelestarian budaya.
Rektor Universitas Setia Budhi Apresiasi Kolaborasi Budaya
Rektor Universitas Setia Budhi, Dr. Iman Sampurna, M.Pd., memberikan apresiasi atas terselenggaranya Gebyar Warisan Budaya Banten. Menurutnya, kolaborasi antara Universitas Setia Budhi dan BPK Wilayah Banten menjadi implementasi nyata komitmen universitas dalam mendukung pelestarian budaya sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
“Gebyar Warisan Budaya Banten merupakan wujud komitmen Universitas Setia Budhi dalam mengimplementasikan visi kampus, yaitu menjadi perguruan tinggi yang Adaptif, Bereputasi, dan Berbudaya. Mahasiswa tidak hanya dituntut unggul secara akademik dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, tetapi juga harus memiliki karakter yang kuat dengan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya bangsa. Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus mencintai, melestarikan, dan mengembangkan warisan budaya Indonesia,” tutur Rektor.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kampus memiliki peran penting dalam membangun generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan berakar pada nilai budaya bangsa.
Kampus Adaptif, Bereputasi, dan Berbudaya
Gebyar Warisan Budaya Banten menjadi salah satu bentuk implementasi visi Universitas Setia Budhi sebagai kampus yang adaptif, bereputasi, dan berbudaya.
Kampus adaptif adalah kampus yang mampu mengikuti perkembangan zaman dan memanfaatkan berbagai media modern untuk mendukung pembelajaran. Dalam konteks budaya, adaptif berarti mampu mengenalkan warisan budaya melalui pendekatan yang relevan dengan generasi muda.
Kampus bereputasi adalah kampus yang mampu menghadirkan program berkualitas dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Kegiatan ini menunjukkan bahwa Universitas Setia Budhi tidak hanya aktif dalam bidang akademik, tetapi juga dalam pelestarian budaya.
Kampus berbudaya adalah kampus yang menjunjung tinggi nilai etika, kearifan lokal, dan identitas bangsa. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak untuk memahami bahwa kebudayaan adalah bagian penting dari pembentukan karakter.
Penguatan Peran Perguruan Tinggi dalam Pelestarian Budaya
Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya. Peran tersebut dapat dilakukan melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dalam bidang pendidikan, kampus dapat memasukkan literasi budaya ke dalam kegiatan akademik dan kemahasiswaan. Dalam bidang penelitian, dosen dan mahasiswa dapat melakukan kajian mengenai sejarah, seni, tradisi, dan kearifan lokal. Dalam bidang pengabdian kepada masyarakat, kampus dapat berkolaborasi dengan komunitas budaya dan pemerintah untuk menyelenggarakan kegiatan edukatif.
Universitas Setia Budhi menegaskan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tugas seniman atau pemerintah, tetapi juga menjadi tanggung jawab dunia pendidikan.
Harapan untuk Generasi Muda Banten
Melalui penyelenggaraan Gebyar Warisan Budaya Banten, generasi muda diharapkan semakin mencintai budaya daerahnya. Rasa cinta terhadap budaya lokal menjadi fondasi penting dalam membangun identitas diri dan kebanggaan sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
Generasi muda juga diharapkan tidak hanya menjadi penikmat budaya, tetapi ikut berperan sebagai pelestari dan pengembang budaya. Peran tersebut dapat dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari mempelajari sejarah lokal, mengikuti kegiatan budaya, mendokumentasikan tradisi, hingga memperkenalkan budaya melalui media digital.
Dengan demikian, budaya Banten dapat terus hidup, berkembang, dan dikenal lebih luas oleh masyarakat.
Penutup
Warisan Budaya Banten menjadi kekayaan yang perlu terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang. Melalui Gebyar Warisan Budaya Banten, Universitas Setia Budhi bersama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Banten berhasil menghadirkan ruang edukasi budaya yang menarik, interaktif, dan bermakna.
Kegiatan yang berlangsung pada 21–22 Juli 2026 di Aula Serbaguna Kampus Universitas Setia Budhi ini menghadirkan berbagai agenda, mulai dari pameran cagar budaya, pameran Jalur Rempah Banten, galeri foto sejarah, komik edukasi kebudayaan, lukisan cagar budaya, permainan tradisional, seni pertunjukan, hingga kuliner khas Banten.
Melalui kegiatan ini, Universitas Setia Budhi kembali menunjukkan komitmennya sebagai kampus yang adaptif, bereputasi, dan berbudaya. Kampus tidak hanya berperan dalam mencetak lulusan berkualitas, tetapi juga menjadi motor penggerak dalam menjaga, mengenalkan, dan mengembangkan kebudayaan daerah.
Dengan semangat “Jejak Masa Lalu, Inspirasi Masa Depan”, Gebyar Warisan Budaya Banten diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal sekaligus memperkuat identitas budaya Banten di tengah arus globalisasi.

