Universitas Setia Budhi Rangkasbitung kembali menunjukkan komitmennya terhadap Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui kegiatan Praktek Kerja Mahasiswa (PKM) yang secara resmi diserahkan kepada Pemerintah Kecamatan Gunung Kencana. Acara serah terima mahasiswa PKM berlangsung di aula kantor kecamatan dan dihadiri jajaran pemerintah, unsur Forkopimcam, serta para kepala desa yang menjadi lokasi penempatan. Suasana seremonial yang hangat ini menandai dimulainya rangkaian pengabdian mahasiswa kepada masyarakat desa.
Pada tahun 2018 ini, PKM Universitas Setia Budhi mengusung tema besar pemberdayaan dan partisipasi masyarakat desa, penguatan ideologi Pancasila, serta pengembangan kemandirian desa. Tema tersebut dipilih agar kehadiran mahasiswa tidak hanya sekadar menjalankan kewajiban akademik, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan sosial di tingkat akar rumput. Selama kurang lebih tiga minggu, hingga 19 Februari 2018, mahasiswa akan hidup berdampingan dengan warga dan terlibat langsung dalam berbagai kegiatan di desa.
Ketua pelaksana PKM, Dr. Harits Hijrah Witcaksana, dalam laporannya menjelaskan bahwa program ini diikuti oleh 105 mahasiswa semester tujuh. Seluruh peserta PKM ditempatkan di lima desa di Kecamatan Gunung Kencana, yaitu Desa Gunung Kencana, Gunung Kendeng, Kramat Jaya, Cimanyangrai, dan Ciginggang. Komposisi penempatan dibuat sedemikian rupa agar setiap desa mendapatkan dukungan yang seimbang, sekaligus memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar dari karakter sosial yang berbeda-beda.
Harits menegaskan bahwa mahasiswa peserta PKM merupakan duta akademik Universitas Setia Budhi di tengah masyarakat. Oleh karena itu, sikap, perilaku, dan etika pergaulan mereka menjadi cerminan kualitas kampus.
“Mahasiswa harus bisa menjaga nama baik almamater dan keluarga. Kesadaran sosial itu penting dibangun, baik bagi mahasiswa maupun masyarakat yang didampingi,”
ujar doktor termuda di Kabupaten Lebak tersebut.
Ia berharap, setelah PKM berakhir, akan ada perubahan kecil namun nyata, mulai dari cara warga memandang pendidikan hingga praktik keseharian yang lebih sehat dan produktif.
Rektor Universitas Setia Budhi, Dr. Suwaib Amiruddin, dalam sambutannya juga menegaskan pentingnya integrasi antara teori dan praktik. Menurutnya, pengetahuan yang diperoleh di ruang kuliah baru akan bermakna jika diuji di lapangan.
“Penting aspek teori yang berkulminasi dengan aspek praktis. Di situlah letak pentingnya ilmu,” ungkapnya.
Melalui PKM, mahasiswa diajak untuk menguji konsep-konsep yang mereka pelajari, seperti partisipasi masyarakat, pembangunan desa, dan penguatan ideologi kebangsaan, dalam situasi sosial yang sesungguhnya.
Lebih jauh, Dr. Suwaib menjelaskan bahwa sasaran utama PKM Universitas Setia Budhi meliputi tiga hal. Pertama, mendorong munculnya inisiatif pemberdayaan di masyarakat desa, misalnya melalui kegiatan penyuluhan, pemetaan potensi lokal, atau pendampingan kelompok pemuda dan perempuan. Kedua, memperkuat partisipasi warga dalam pembangunan sosial, sehingga program desa tidak hanya bergantung pada aparat pemerintah, tetapi juga didukung aktif oleh masyarakat. Ketiga, menjaga dan menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi pemersatu di tengah perubahan sosial yang cepat. Ia meyakini, jika tiga sasaran ini bergerak bersama, kemandirian desa secara bertahap dapat terwujud.
Kegiatan PKM tahun ini juga mendapat sambutan positif dari pemerintah kecamatan. Camat Gunung Kencana, Jakaria Hartanto, menyampaikan apresiasinya kepada Universitas Setia Budhi yang telah memilih wilayahnya sebagai lokasi pengabdian. Dalam sambutannya, ia menyoroti masih adanya persoalan mendasar di masyarakat, mulai dari kesadaran hidup bersih hingga pola pikir yang cenderung mempertahankan kebiasaan lama.
“Saya datang ke Gunung Kencana masih melihat warga yang dolbon dalam BAB. Ini contoh saja, hal lain masih banyak lagi,”
tutur Jakaria.
Ia berharap mahasiswa dapat menjadi mitra dialog bagi pemerintah desa, sekaligus motor penggerak perubahan perilaku di tengah masyarakat, terutama terkait kesehatan lingkungan dan perilaku sehari-hari yang lebih higienis.
Jakaria juga mengingatkan pentingnya kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, tokoh masyarakat, hingga unsur keamanan seperti kepolisian dan koramil. Menurutnya, keseimbangan di lapangan sangat menentukan keberhasilan program. Mahasiswa tidak datang sebagai “tamu istimewa”, tetapi sebagai bagian dari komunitas yang siap belajar dan bekerja bersama. Dengan pola kerja yang partisipatif, ide-ide yang dihasilkan dari PKM diharapkan tidak hanya berhenti sebagai laporan akademik, tetapi benar-benar bisa diadopsi dalam program desa.

Bagi mahasiswa sendiri, PKM Universitas Setia Budhi menjadi ruang pembelajaran yang sangat lengkap. Mereka dituntut mengelola waktu antara kegiatan pengabdian, penyusunan laporan, dan interaksi sosial dengan warga. Keterampilan komunikasi, manajemen konflik, kepemimpinan, serta kepekaan sosial diasah secara langsung melalui pengalaman sehari-hari di desa. Banyak mahasiswa yang mengaku bahwa PKM merupakan titik balik cara pandang mereka terhadap ilmu sosial dan peran intelektual di masyarakat.
Pada akhirnya, PKM bukan hanya kewajiban kurikuler, tetapi bagian dari proses pembentukan karakter calon sarjana yang peduli dan bertanggung jawab. Melalui keterlibatan aktif di desa-desa di Kecamatan Gunung Kencana, Universitas Setia Budhi berharap lahir generasi lulusan yang tidak sekadar kuat di tataran teori, tetapi juga terbukti mampu hadir, mendengar, dan bekerja bersama masyarakat. Dari sinilah wajah perguruan tinggi yang berorientasi pada pengabdian publik benar-benar terlihat dan dirasakan manfaatnya oleh warga.
