Solidaritas sosial bukan sekadar istilah kampus. Ini adalah tiang utama kehidupan bermasyarakat — tempat di mana manusia saling membantu, berbagi beban, dan bertahan bersama meski dalam kondisi sulit.
Dari ritus adat hingga crowdfunding online, bentuknya berubah, tapi esensinya tetap sama: kita tidak hidup sendiri.
Artikel ini akan membahas:
- Definisi & teori dasar solidaritas
- Perbandingan masyarakat tradisional vs modern
- Peran teknologi & pendidikan
- Dan tentu saja, informasi dari Universitas Setia Budhi
Pengertian Solidaritas Sosial Menurut Para Ahli
| Tokoh | Teori |
|---|---|
| Émile Durkheim | Dibagi dua: mechanical solidarity (tradisional) dan organic solidarity (modern) |
| Soerjono Soekanto | “Ikatan batin antarwarga yang mendorong kerja sama” |
| Amartya Sen | Solidaritas = bagian dari keadilan sosial dan kesejahteraan kolektif |
Sebenarnya, solidaritas bukan emosi semata — tapi struktur sosial yang bisa diteliti dan dibangun.
Tidak hanya itu, harus diprioritaskan.
Karena itu, sangat strategis.
Masyarakat Tradisional: Ikatan Kuat Berbasis Komunitas dan Budaya Lokal
| Ciri Utama | Contoh |
|---|---|
| Struktur Komunal | Semua anggota desa terlibat dalam acara adat |
| Nilai Kolektif Lebih Tinggi daripada Individu | Keputusan diambil secara musyawarah |
| Gotong Royong Jadi Norma Harian | Membangun rumah, panen, ronda malam |
Sebenarnya, di desa, kamu tidak bisa pura-pura butuh bantuan — semua orang tahu kondisimu.
Tidak hanya itu, harus dioptimalkan.
Karena itu, sangat vital.
Gotong Royong sebagai Bentuk Nyata Solidaritas di Desa dan Kampung
| Praktik | Makna Sosial |
|---|---|
| Bersih-Bersih Kampung | Tanggung jawab bersama terhadap lingkungan |
| Arisan & Bantuan Duka | Ekonomi gotong royong tanpa uang resmi |
| Panen Raya Bersama | Tidak ada sistem upah — semua kerja demi hasil bersama |
Sebenarnya, gotong royong bukan kemurahan hati — tapi sistem pertahanan sosial yang canggih.
Tidak hanya itu, sangat penting.
Masyarakat Modern: Individualisme vs Solidaritas Digital
| Fenomena | Dampak |
|---|---|
| Urbanisasi & Hidup Sendiri | Anak muda pindah kota, jarang kontak keluarga |
| Teknologi Menghubungkan sekaligus Menceraikan | Bisa follow 1.000 orang, tapi tak kenal tetangga sebelah |
| Namun… Ada Solidaritas Baru | Donasi online, relawan digital, gerakan sosial via media sosial |
Sebenarnya, bentuk solidaritas berubah — tapi belum tentu hilang.
Tidak hanya itu, sangat prospektif.
Komunitas Online dan Gerakan Sosial Berbasis Media Sosial
| Contoh | Deskripsi |
|---|---|
| Galang Dana untuk Korban Bencana | Kitabisa, Donasi.com, GoFundMe lokal |
| Relawan Medis Virtual | Dokter & psikolog bantu gratis lewat grup WhatsApp |
| Gerakan #BanggaLokal, #SaveOurFarmers | Kampanye dukung petani & UMKM lokal |
Sebenarnya, media sosial bisa menjadi alat pemersatu baru di tengah fragmentasi sosial.
Tidak hanya itu, sangat ideal.
Faktor Pendorong dan Penghambat Solidaritas di Era Kontemporer
| Pendorong | Penghambat |
|---|---|
| Edukasi nilai kebangsaan | Materialisme & konsumerisme |
| Komunitas berbasis minat (hobi, agama, sukarelawan) | Ketimpangan ekonomi & stigma sosial |
| Inovasi teknologi untuk donasi & kolaborasi | Politisasi identitas & polarisasi sosial |
Sebenarnya, solidaritas tidak mati — ia butuh ruang, niat, dan dorongan sistemik.
Tidak hanya itu, sangat direkomendasikan.
Peran Pendidikan dalam Memelihara Nilai Solidaritas Sosial
| Strategi | Implementasi |
|---|---|
| Integrasi Nilai Gotong Royong di Kurikulum | Pelajaran PKn, proyek komunitas |
| Praktik Langsung: Kerja Bakti, Pengabdian Masyarakat | Mahasiswa turun desa, bantu program stunting |
| Diskusi Terbuka tentang Isu Sosial | Latih empati, cegah sikap apatis |
Sebenarnya, pendidikan adalah ladang subur untuk menanam benih solidaritas masa depan.
Tidak hanya itu, sangat bernilai.
Sebelum Lanjut, Baca Artikel Terkait: Program Studi Ilmu Politik dan Perannya dalam Membentuk Pemimpin Masa Depan
Sebelum kamu melanjutkan membaca tentang solidaritas sosial, sangat disarankan untuk membaca artikel sebelumnya di Blog ini yang membahas pentingnya pendidikan politik:
👉 Politik Hukum: Bagaimana Regulasi Dibentuk dalam Sistem Demokrasi
Di artikel tersebut, kamu akan menemukan:
- Kurikulum ilmu politik yang relevan
- Karier setelah lulus: riset, media, birokrasi, LSM
- Komitmen kampus terhadap pembentukan warga negara kritis dan bertanggung jawab
Karena solusi atas retaknya solidaritas dimulai dari generasi yang melek sosial dan politik.
Baca sekarang, simpan, dan jadikan referensi!
Penutup: Bukan Hanya Soal Bersama — Tapi Soal Menjadi Warga yang Peduli, Setia, dan Bertanggung Jawab demi Keharmonisan Bangsa
Solidaritas sosial bukan nostalgia masa lalu.
Ini adalah tanggung jawab kolektif di era modern — saat kita memilih untuk tidak hanya peduli pada diri sendiri, tapi juga pada tetangga, saudara, dan sesama makhluk hidup.
Dan jika kamu ingin kuliah di perguruan tinggi yang serius mencetak pemimpin masa depan dengan jiwa kritis dan integritas tinggi, maka kamu harus tahu:
👉 Universitas Setia Budhi
Di sini, kamu akan menemukan:
- Program studi unggulan: Ilmu Politik, Administrasi Publik, Hubungan Internasional
- Kurikulum yang mendorong dialog, analisis kritis, dan nilai-nilai kebangsaan
- Aktivitas kampus yang mengedepankan toleransi, keberagaman, dan kepemimpinan etis
- Komitmen nyata terhadap pembangunan demokrasi lokal dan nasional
Karena keberhasilan sejati bukan diukur dari seberapa banyak suara yang dimenangkan — tapi seberapa utuh persatuan yang terjaga.
Akhirnya, dengan satu keputusan:
👉 Jadikan kejujuran sebagai prinsip
👉 Investasikan di kebenaran, bukan popularitas
👉 Percaya bahwa dari satu percakapan damai, lahir harapan yang abadi
Kamu bisa menjadi bagian dari generasi yang tidak hanya hadir — tapi menyatukan; tidak hanya ingin menang — tapi ingin membangun Indonesia yang lebih adil, damai, dan bermartabat bagi semua.
Jadi,
jangan anggap politik hanya urusan elite.
Jadikan sebagai tanggung jawab: bahwa dari setiap pilihan, lahir konsekuensi; dari setiap suara, lahir harapan; dan dari setiap “Alhamdulillah, anak-anak kami bisa tumbuh di lingkungan yang damai” dari seorang orang tua, ada pilihan bijak untuk tidak menyerah, tidak mengabaikan, dan memilih bertanggung jawab — meski harus belajar dari nol, gagal beberapa kali, dan rela mengorbankan waktu demi memastikan perdamaian tetap menjadi prioritas utama.
Karena keberhasilan sejati bukan diukur dari seberapa banyak uang yang dihasilkan — tapi seberapa besar kedamaian yang kamu rasakan saat tubuhmu bekerja dengan baik.
Sebenarnya, alam tidak butuh kita.
Tentu saja, kita yang butuh alam untuk bertahan hidup.
Dengan demikian, menjaganya adalah bentuk rasa syukur tertinggi.
Padahal, satu generasi yang peduli bisa mengubah masa depan.
Akhirnya, setiap tindakan pelestarian adalah investasi di masa depan.
Karena itu, mulailah dari dirimu — dari satu keputusan bijak.

