STISIP Setia Budhi Gelar Pendidikan Wawasan Kebangsaan

Foto: Moderator dan sejumlah narasumber kegiatan/Humas

Lebak – Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Setia Budhi Rangkasbitung menggelar pendidikan wawasan kebangsaan tingkat mahasiswa. Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai organisasi kemahasiswaan yang direpresentasikan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari PT di aras lokal, Kabupaten Lebak dan dilaksanakan di aula STISIP Setia Budhi. Selain itu, dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, tampak sejumlah sivitas akademika, Pemerintah Daerah serta insan pers. Kamis (16/9/2021).

Dalam kaitan tersebut, Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Setia Budhi Rangkasbitung ini juga mencoba melibatkan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesabangpol) Kabupaten Lebak dalam kegiatan tersebut. Hal ini membuat relasi di antaranya saling mendukung dalam upaya meningkatkan wawasan kebangsaan.

Sementara itu, Harits Hijrah Wicaksana selaku akademisi yang concern terhadap kebijakan publik ini juga mengemukakan sejumlah hal yang berkelindan terhadap praktik kehidupan kebangsaan. Menurutnya, pada 2045 Indonesia akan berada pada posisi keempat ekonomi besar dunia.

“Hal ini bisa dicapai apabila hasil dari output pendidikan sangat tepat dan terukur, misalnya, orientasi pendidikan juga harus selaras dengan perkembangan peradaban kontemporer. Terlebih, dengan adanya konsep Kampus Merdeka yang disampaikan oleh Mas Menteri,” ujar Ketua STISIP Setia Budhi Rangkasbitung

Lebih lanjut, lulusan Doktor Universitas Padjadjaran ini juga mengatakan bahwa konsep kampus merdeka itu harus membuat happy agar pembelajaran, penelitian, dan pengabdian bisa berjalan secara maksimal dan mudah dipahami secara inheren.

“Harapannya kegiatan wawasan kebangsaan ini juga bisa bermanfaat dan berguna bagi elemen mahasiswa. Selain itu, Harits Hijrah Wicaksana ini juga memberikan saran kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak, terutama kepada Badan Kesatuan Bangsa dan Politik agar memiliki dan membuat konsep parameter (survei) untuk mengukur yang koheren terhadap Kesatuan Bangsa dan Politik ini, agar kebijakan yang dibuat bisa terarah, terukur.” ungkap Wicaksana selaku Ketua STISIP Setia Budhi Rangkasbitung

Ia juga menyampaikan ada sejumlah pendidikan wawasan kebangsaan dan isu perhatian publik, di antaranya, kondisi ekonomi dan pelaksanaan demokrasi. Dalam uraiannya, demokrasi tidak bisa berjalan tanpa ekonomi yang baik. Dan, yang kedua adalah trust pada lembaga negara, kinerja pemerintahan, radikalisme dan intoleransi keagamaan, dan isu-isu lainnya.

Terakhir, Harits Hijrah Wicaksana juga uga menyebutkan ada sebuah model yang bisa digunakan dalam praktik wawasan kebangsaan. Seperti, lingkungan terdekat (sekitar), masyarakat, kebudayaan, organisasi kepemudaan serta hal ihwal lainnya. Sebagai pemuda termasuk mahasiswa kita tidak boleh antipati pada politik.

Facebook Comments
Previous Article
Next Article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *